Hari ini ada sebuah tugas dari bidang studi Bahasa Indonesia, Sebuah tugas yang membuat semua perhatian dan fokusku beralih kepadamu. Tugas membuat puisi dengan waktu kurang dari 30 menit kami harus membuat puisi. Ingin rasanya saya membuat puisi mengenai orang tua, mimpi, alam atau yang lain asal jangan bertemajkan cinta. Namun hati berkehendak lain, anehnya lagi hati seakan akan yang mengatur pusat kerja otaku untuk menulis puisi bertema cinta. Ya, terpilihlah sebuat tema mengenai CINTA, saya sadari saat ini membicarakan tentang cinta bahkan menuliskannya ke sebuah karya sastra merupakan hal yang wajar, tetapi saya pasti akan malub bila teman sekelasku harus mengolok-olok aku karena puisi CINTA ini.
Rasa malu itu, ternyata telah dikalahkan oleh hati dan rasa rindu yang selama ini telah lama tersimpan, rasa rindu yang sudah saatnya aku tuangkan dalam sebuah karya sastra dikarenakan semua orang telah lelah mendengar ceritaku mengenai bertapa rindu aku akan sosok dirimu. Beginilah puisi tersebut....
Seandainya
Karya :
Waktu seakan berlalu
Semuanya berjalan sia-sia
Mencintai dan mengharapkanmu
Seperti halnya meraih mentari
Aku akan bahagia
Seandainya,
aku melihatmu tersenyum
Seandainya,
aku melihatmu tertawa
Seandainya,
aku melihatmu berada di sini
Walau
semua itu bukan untuku
Yang terpenting adalah
Melihatmu ada disini
Tersenyum, tertawa dan berlari
Anganku terlalu jauh
untuk dapat menggapaimu
Bahkan
dalam mimpipun terlalu indah
Tak bisakah sedetikpun kau
memberikanku kesempatan ?
Hal yang ada dalam pikiranku saat ini, saat mengepos puisi ini adalah mungkinkah kau membaca puisi ini dan mengetahui segalah hal yang ku rasakan ?? Aku telah menunggumu bukan dengan waktu yang singkat, tampak sebuah harapan sekecil apapun dari dirimu. Tetapi hatiku telah memilihmu bukan dia sehingga aku hanya bisa terus berharap. Maaf untuk mengganggu hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar